Viral Kisah Seorang Wanita Yang Hampir Terjerumus Kedalam Aliran Sesat Dan Menjadi Teroris

Viral Kisah Seorang Wanita Yang Hampir Terjerumus Kedalam Aliran Sesat Dan Menjadi Teroris

Viral Kisah Seorang Wanita Yang Hampir Terjerumus Kedalam Aliran Sesat Dan Menjadi Teroris

Sukagosip – Viral Kisah Seorang Wanita Yang Hampir Terjerumus Kedalam Aliran Sesat Dan Menjadi Teroris, Media sosial tengah diramaikan dengan unggahan seorang netizen di Facebook.

Kisah yang menjadi viral di media sosial ini dibagikan oleh akun Facebook bernama Yunita Dwi Fitri pada Senin (14/5/2018).

Baru-baru ini memang Indonesia sedang diguncang dengan serangan teroris yang bertubi-tubi mulai dari Surabaya, Riau, Lampung hingga Tangerang.

Karena sedang maraknya fenomena aksi terorisme ini, Yunita Dwi Fitri pun membagikan kisahnya saat ia hampir saja terseret mengikuti aliran sesat yang bisa menjadikan dirinya seorang teroris.

Kejadian itu terjadi pada 12 tahun yang lalu saat Yunita Dwi Fitri masih sibuk dengan Tugas Akhir perkuliahannya di Bandung.

Saat perjalanan pulang dari kampus menuju kosannya, ia bertemu dengan seorang remaja yang mengaku baru lulus SMA dan meminta bantuannya untuk mencari kos-kosan.

Dalam unggahannya, Yunita Dwi Fitri menyebut remaja itu Anna. Saat itu Anna berpenampilan seperti anak dari daerah karena hanya menggunakan rok panjang, baju kemeja, dan tidak berjilbab.

Karena kos-kosan Yunita Dwi Fitri masih ada kamar yang kosong, ia pun tidak ragu untuk menawarkannya kepada Anna.

Keanehan pun mulai terjadi saat mereka tiba di kos-kosan Yunita Dwi Fitri, karena bukannya menemui bapak kos, Anna malah meminta minum dan duduk di dalam kamar Yunita.

Baca juga :  Video Kocak Cak Lontong Saat Unboxing iPhone X

Meski Yunita sudah melihat ada keanehan dari tingkah Anna, Yunita tidak sedikitpun takut.

Saat itu, Anna pun juga sempat melihat ada Al-Quran yang diletakkan di atas sajadah.

Anna menanyakan apakah Yunita suka membaca Al-Quran, dan Yunita membenarkannya.

Yang kemudian mengejutkan adalah saat Anna mengatakan bahwa keesokan harinya ia akan datang ke kos-kosan Yunita lagi namun dengan membawa teman dengan dalih belajar tafsiran Al-Quran bersama-sama.

Yunita yang memang sedang mengulik tentang Al-Quran dan buku-buku tentang keTuhanan pun menerima tawaran tersebut.

Keesokan harinya Anna pun benar datang dengan seseorang yang disebut Yunita bernama Tari.

Mulai dari pertemuan dengan Anna kemudian Tari, keanehan-keanehan pun mulai terungkap dan membuat Yunita semakin curiga.

Waktu lagi galau2nya Tugas Akhir kuliah, diperjalanan menuju kosan dari kampus sendirian, sepanjang jalan Sekeloa mikirin Tugas Akhir yang bener2 bikin galau.

Tiba-tiba ada anak perempuan masih remaja mengaku baru lulus SMA sebutlah Anna datang menghampiri

“Kak, saya lagi cari kostan, bisa bantu ga?”

Kebetulan di tempat kost saya tinggal masih ada kamar kosong, tanpa ragu saya tawarin ke dia.

Penampilannya seperti anak dari daerah, rok panjang, baju kemeja tidak berjilbab.

Sampai di kostan, dia menolak ketika saya ajak ketemu dengan bapak kost, malah minta minum dan duduk didalam kamar.
Meski aneh kelakuannya saya ga ada takut sedikitpun dengan anak ini.

Dia melihat ada Al-quran terbuka diatas sajadah, kemudian dia bertanya

“Suka baca Al-Quran kak?”

Saya jawab

“Iya, lagi belajar, suka baca tafsirannya”

Kemudian dia bilang

“Saya besok kesini lagi ya kak bawa temen, nanti kita belajar bareng-bareng ttg tafsir Al Quran”

Saya udah mulai curiga karena tujuan awal dia kesini adalah cari kostan, kenapa jadi sok akrab malah ngajak temen main.

Tapi saat itu, saya memang lagi ngulik tentang Al-Quran dan buku-buku tentang keTuhanan, namanya juga masa remaja yang lagi kepo-keponya lah..jadi ada yang nawarin belajar yaudah boleh lah diterima.

Besoknya si Anna ini dateng bersama temannya sebutlah Tari yang sepertinya seumur dengan saya (22-23), berjilbab putih, kemeja putih, celana bahan warna hitam, penampilannya sangat gak kekinian.

Setiap kalimat tertata rapi dari awal berkenalan dan akhirnya mulai menyuruh saya membuka Al-Quran dengan hafal dia mengintruksikan untuk membuka tiap-tiap ayat.

Si Anna hanya diam, malah lebih seperti asisten, bukan teman. Setiap ayat yang dia intruksikan saya bacakan, dan intinya adalah “halalnya membunuh orang-orang kafir, jihad dijalan Allah tidak mudah, pasti akan dimusuhi bahkan oleh keluarga sendiri, tapi hal itu yang dibenarkan dalam Al-Quran, maka dari itu diawali dengan sembunyi2 agar misi terlaksana dengan baik”

Gak lama dia ngajak untuk belajar lebih lanjut di kostan dia besok, kostnya gak jauh dari kost saya.

Anna bersedia menjemput besok. Kemudian dia pergi. Gak ada basa-basi seperti orang biasa yang ingin berteman, apalagi Anna seperti halnya pengantar Tari.

Sudah galau TA makin galau lagi nih, antara takut dosa (melanggar Al-Quran) atau takut diajarin yang enggak-enggak. Tapi saya masih penasaran.

Besoknya Anna datang menjemput, dia mengajak saya ke kostan Tari. Mulai curiga.

Di kamar berukuran 3×3, tanpa kasur dan furniture lain. Hanya ada lemari dan tikar.

Kemudian Anna menutup jendela dan mengunci pintu. Tari mengeluarkan sebuah whiteboard berukuran sedang dari belakang lemari.

Diawali doa, dia mengajarkan sebuah ideologi. Ga ada Al Quran. Hanya dengan coretan di white board.

Menggambarkan sebuah mobil ketika driver salah mengendarai, masuk kejurang, matilah semua penumpang didalam mobil, begitulah jika di sebuah negara pemimpinnya salah, intinya adalah negara ini salah dan kita semua berdosa jika dipimpin dengan pemimpin yang salah.

Kemudian menggambarkan sebuah apel busuk ketika ada didalam kulkas bersama apel-apel yang baik, maka apel yang baik akan tertular busuk, itulah kita jika masih berteman dengan orang kafir dan tidak sepemahaman dengan kita.

Dari gambaran2 itu, kira-kira paham kan ya maksudnya.
Banyak lah ideologi2 yang dia sampaikan. Dan dia menyebut kita harus membangun Negara Islam Indonesia untuk negara yang diridhoi Allah.

Semakin curiga hati ini ketika dia bilang:

“Untuk membangun misi ini diperlukan dana, karena kita membangun sebuah negara baru untuk Allah, dan diperlukan pengorbanan dan ketetapan hati, jadi kamu akan dibay’at di Cimahi (saya kurang inget tepatnya dimana) dengan membawa uang 400rb, jangan bertanya bukankah amal itu seikhlasnya? Tidak.. karena dengan perngorbananmu maka Allah akan tau sampai mana pengorbananmu untuk-Nya. Bahkan ketika kamu berbohong meminta uang ke orang tua atau menjual handphonemu adalah sebuah pengorbanan untuk Allah. Adapun baju yang harus dikenakan adalah kemeja, hijab, celana bahan”

Jujur saja saya cukup merasa dibrainwash, otak ini berfikir untuk mengikuti perkataannya sampai saya gak berani ngomong ke teman terdekatpun, tapi hati ini menolak ketika saya harus berbohong ke orang tua demi Allah, bahkan ketika saya harus menghalalkan segala cara demi pengorbanan demi Allah untuk mendapatkan uang 400rb.

Saya kuliah mayoritas teman non muslim, gak mungkin saya cerita ke mereka.

Saya takut dosa karena saya menyalahi aturan.

Kemudian saya lari ke Darut Tauhid, yang saya tau di sana adalah tempat orang-orang yang berilmu mengenai ke islaman.
Singkat cerita saya bertemu dengan 2 orang mahasiswa berhijab panjang, mereka adalah penyelamat saya, mereka tau betul tentang NII sebuah aliran sesat yang ternyata sudah lumayan banyak di Bandung.

Mereka berusaha mencuci otak anak-anak muda, banyak di antara mereka yang hilang, meninggalkan keluarga demi membangun Negara Islam Indonesia, menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang, bahkan sampai mereka semiskin-miskinnya untuk disetor ke pimpinan mereka karena misi mereka membangun sebuah negara didalam negara.

Setelah saya memutuskan gak mau datang ke ajakannya untuk dibay’at beberapa minggu kemudian saya bertemu lagi dengan Anna di jalan Sekeloa, tiba-tiba dia berjilbab dan pura-pura ga liat seperti ketakutan.

Mulai saat itu saya ga pernah kasih uang ke orang peminta sumbangan di atm atau dijalan dengan penampilan seperti Tari. Berhijab, kemeja, celana bahan.

12 tahun sudah berlalu, sekarang Indonesia sedang darurat teroris, dan saya percaya ini bukan cuma sekadar isu.

Sekarang Tari-Tari lain banyak kita temui di sosmed.. jangan biarkan mereka semakin berkembang.

Demi NKRI. Demi Agamaku.” tulis Yunita Dwi Fitri pada akun Facebook-nya.

Sontak kisah ini pun langsung mendapatkan tanggapan yang beragam dari netizen lainnya.

Milani Lubis: Ngeri yaa akibat brain wash seperti ini

Yenni Damayanti: Astaga.. Sebegitunya ya utk merekrut calon pengantin. Saya mmg pernah dengar. Tp ga nyangka sebegitunya tersistematis

Neni Hayati: Ceritanya hampir sama ketika saya masih di Bandung, sekitar tahun 2011, alhamdulillah Alloh jauhkan dari faham seperti itu. Carilah ilmu yang kajiannya terbuka untuk umum, di tempat yang tidak sembunyi2

Berdasarkan pantauan tim sukagosip.com unggahan ini sudah dibagikan sebanyak 9 ribu kali lebih dan mendapatkan komentar sebanyak lebih dari 1,7 ribu netize